Gus Mus Menilai Dirinya Bukan Pejuang HAM

Inakoran

Thursday, 25-01-2018 | 23:53 pm

MDN
KH Mustofa Bisri atau yang lebih dikenal dengan pa

ong>Jakarta, Inako –

KH Mustofa Bisri atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Mus mengatakan bahwa dirinya bukan pejuang hak asasi manusia, dan bahkan dia mengaku dirinya tidak mengerti hak asasi manusia.

Pernyataan tersebut terlontar dari mulut Gus Mus saat memberikan sambutan usai menerima penghargaan, Yap Thiam Hien Award 2017, di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (24/1/2018).

"Saya ini enggak ngerti HAM. Dewan juri ini sepertinya lebay. Saya ini ngerti HAM ya baru akhir-akhir ini setelah bertemu para milenials itu," kelakar Gus Mus yang membuat seluruh tamu undangan tertawa.

Menurut Gus Mus, apa yang ia lakukan selama ini merupakan kewajiban sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Para kiai yang menjadi gurunya di pesantren selalu berpesan bahwa Indonesia adalah rumah yang harus terus dijaga.

“Saya banyak mondok di pesantren. Para kiai dan guru saya mengajarkan bahwa Indonesia itu rumahmu. Ya saya jaga rumah saya,” ucapnya.

Gus Mus merupakan ulama pertama yang menerima penghargaan bagi pejuang HAM, Yap Thiam Hien award.

Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) itu dinilai sebagai sosok ulama yang memiliki keteguhan dalam membangun moralitas kemanusiaan di tengah bangsa yang beragam.

Sementara itu, Ketua Yap Thiam Hien Todung Mulya Lubis mengatakan, KH Mustofa Bisri merupakan seorang ulama yang cinta damai dan kemajemukan.

Di tengah situasi dunia dan Indonesia yang semakin menguatnya radikalisme dan sektarianisme, kata Todung, Gus Mus tampil sebagai sosok pendamai dan pejuang kemajemukan.

Kedua paham tersebut, kata Todung, sangat mengganggu situasi masyarakat yang beragam dan majemuk.

Todung menambahkan, perjuangan untuk menegakan nilai-nilai hak asasi manusia (HAM) di tengah kemajemukan itulah yang mengantarkan Gus Mus, sapaan KH Mustofa Bisri, menerima penghargaan Yap Thiam Hien Award 2017.

Dengan penghargaan itu, Todung berharap dunia perlu melihat dan menilai bahwa di Indonesia ternyata masih ada ulama yang cinta damai dan kemajemukan dan bukan ulama yang kerap ditampilkan sebagai sosok yang keras, fanatik dan tidak menerima kemajemukan.

"Dunia perlu melihat Gus Mus, bahwa Indonesia punya ulama Islam yang cinta damai dan kemajemukan, bukan ulama yang keras, fanatik dan tidak menerima keberadaan agama lain...," ujar Todung, di sela acara malam penganugerahan Yap Thiam Hien Award 2017, di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, kemarin.

Kiai pengasuh pondok pesantren Raudlatut Tholibin, Rembang, ini dinilai memiliki perhatian yang besar terhadap perjuangan dan tegaknya nilai-nilai HAM.

Menurut Todung, Gus Mus merupakan sosok ulama sekaligus pejuang HAM. Hal itu terlihat dari tulisan dan puisi yang sarat dengan nilai-nilai keberagaman.

"Gus Mus ingin mengatakan Indonesia adalah tempat bagi semua agama dan aliran," kata Todung.

TAG#Gus Mus, #Yap Thiam Hien

190313731

KOMENTAR