Harga Minyak Dunia Bergerak Fluktuatif: Pelaku Pasar Pantau Perkembangan Politik Venezuela

Sifi Masdi

Monday, 05-01-2026 | 11:37 am

MDN
Ilustrasi kilang minyak [ist]

 

 

Jakarta, Inakoran

Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada awal pekan ini, seiring sikap pelaku pasar yang masih mencermati dampak geopolitik di Venezuela terhadap pasokan minyak global. Perhatian investor tertuju pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat serta potensi implikasinya bagi sektor energi negara tersebut.

 

Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (5/1/2026), harga minyak mentah jenis Brent sempat tertekan hingga 1,2% pada awal perdagangan. Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Harga Brent kemudian berbalik arah dan menguat 0,21% ke level US$60,88 per barel.

 

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga bergerak terbatas dengan kenaikan tipis 0,09%, berada di kisaran US$57,37 per barel. Fluktuasi harga ini mencerminkan kehati-hatian pasar dalam menimbang risiko geopolitik dan kondisi fundamental pasokan global.

 

Meski Venezuela merupakan anggota OPEC, kontribusi negara tersebut terhadap pasokan minyak dunia saat ini relatif kecil. Produksi minyak Venezuela telah merosot tajam dalam dua dekade terakhir dan kini hanya menyumbang kurang dari 1% pasokan global, dengan sebagian besar ekspornya mengalir ke China.

 

Kondisi ini membuat pasar menilai gejolak politik di Venezuela tidak serta-merta mengganggu keseimbangan pasokan global.

 

Kepala Ekonom Capital Economics Ltd., Neil Shearing, menilai gangguan jangka pendek terhadap produksi minyak Venezuela masih dapat dengan mudah diimbangi oleh peningkatan produksi dari wilayah lain.

 

Ia bahkan memperkirakan pertumbuhan pasokan global dalam satu tahun ke depan berpotensi menekan harga minyak hingga mendekati US$50 per barel.

 

Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari proyeksi surplus pasokan global tahun ini. Pasar diperkirakan menghadapi kelebihan pasokan seiring langkah OPEC+ dan produsen non-OPEC yang menambah produksi, sementara laju permintaan global cenderung melambat.

 

Dalam pertemuan virtual singkat pada Minggu (4/1/2026), OPEC+ yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia memutuskan untuk menahan rencana kenaikan pasokan pada kuartal pertama. Menariknya, isu Venezuela tidak dibahas dalam konferensi video berdurasi sekitar 10 menit tersebut. Para delegasi menyebut masih terlalu dini untuk menentukan respons terhadap perkembangan politik di negara Amerika Latin itu.

 

Di lapangan, situasi infrastruktur energi Venezuela dilaporkan relatif aman. Meski terjadi serangan AS pada Sabtu (3/1/2026), fasilitas utama seperti Pelabuhan Jose, kilang Amuay, dan kawasan produksi di Sabuk Orinoco dilaporkan tidak terdampak.

 

Namun, tekanan AS terhadap rezim Maduro terus berlanjut. Penyitaan kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Venezuela telah memaksa negara tersebut menutup sejumlah sumur minyak.

 

Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa sanksi terhadap industri minyak Venezuela tetap berlaku. Meski demikian, ia juga menyatakan perusahaan-perusahaan AS siap membantu membangun kembali infrastruktur dan memulihkan produksi minyak Venezuela, meski proses tersebut diperkirakan memakan waktu panjang.

 

Chief Investment Officer Karobaar Capital LP, Haris Khurshid, menegaskan bahwa investasi AS dan pelonggaran sanksi secara nyata tidak akan memberikan dampak instan terhadap pasokan minyak.

Menurutnya, untuk saat ini faktor kelebihan pasokan masih lebih dominan dibandingkan risiko geopolitik, sehingga membatasi potensi kenaikan harga minyak.

 

Di sisi diplomatik, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Washington akan memanfaatkan pengaruhnya di sektor minyak untuk mendorong perubahan lanjutan di Venezuela.

Sebaliknya, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino menuntut AS segera membebaskan Maduro, seraya menegaskan bahwa Maduro merupakan presiden yang sah.

 

 

 

 

 

 

KOMENTAR